Terjemah Khutbah | Syaikh Dr. Abdullah Al-Juhani – Berbakti kepada Kedua Orang Tua

192

Terjemah Khutbah | Syaikh Dr. Abdullah Al-Juhani – Berbakti kepada Kedua Orang Tua, Dokumentasi Terjemah Khutbah Masjidil Haram, Jumat, 23 Rabiul Awwal 1443 H / 29 Oktober 2021 Penerjemah : Ustadz Rahmat Ridho, S.Ag

Khutbah pertama

Bertaqwalah wahai kaum muslimin, karena bertaqwa kepada Allah adalah sebaik-baik pencapaian dan taat kepada-Nya merupakan jalan yang terbaik. Dan jangan lah tertipu dengan perhiasan dunia sebagaimana orang-orang sebelum kalian yang telah terpedaya dengannya lalu mereka terjerumus kedalam kerusakan dan kehinaan. Beramalah dihari dimana kalian akan kembali kepada Allah, dan setiap jiwa akan dibalas dengan apa yang ia telah kerjakan.

Ketahuilah, sungguh Allah telah memutuskan suatu keputusan yang tidak dapat ditolak dan dihindari, bahwasanya siapa yang mencintai sesuatu selain Allah maka akan disiksa pada hari itu. Dan siapa yang takut kepada selain Allah maka hal tersebut akan menguasainya dan barangsiapa yang menyibukkan diri dengan selain Allah maka itu akan menjadi kesialan baginya dan siapa yang mendahulukan selain Allah tidak akan diberkahi dan barangsiapa yang mencari keridhoan orang dengan kemurkaan Allah maka Allah akan buat orang tersebut murka kepada-Nya.

Wahai umat islam…
Diantara kewajiban manusia didunia ini adalah ada dua hal penting yang paling pokok yang tidak dapat dipisahkan dengan manusia dan tidak akan terpisah dengan nya sepanjang hidupnya, keduanya adalah dibalas kebaikan dengan kebaikan.

yang pertama adalah hak sang Pencipta, sang pemberi rezeki dan rabb semesta alam. Allah telah menjadikannya dari yang tidak ada menjadi ada dan menciptakan-Nya dan memperindah ciptaan-Nya. Allah tangguhkan yang ada dilangit dan yang ada di bumi semua untuknya, maka wajib bagi setiap hamba untuk mentauhidkan sang Pencipta dengan ibadah untuk-Nya tidak untuk selain-Nya. Dan juga beriman kepada-Nya san kepada Rasul-Nya.

Yang kedua adalah hak orang tua, semua orang yang berakal mereka mengetahui bahwa setelah kewajiban menunaikan hak Allah adalah menunaikan hak kedua orangtua, Allah berfirman :
۞ وَٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا۟ بِهِۦ شَيْـًۭٔا ۖ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَـٰنًۭا .
Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak,

Dalam hadist,
عن أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ :يَا رَسُوْلَ اللهِ، مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ، قَالَ أَبُوْكَ.
Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, belia berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.’” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548)

Ibu telah mengandung dengan beban berat lalu melahirkan kemudian mendidik dan merawat dan banyak meninggalkan apa dia inginkan demi memperhatikan anaknya. Ibu selalu mendahulukan kepentingan anaknya diatas kepentingan dirinya, dan dia bergembira dengan kegembiraan anaknya dan sedih dengan kesedihan anaknya. Jika sang anak sakit maka ibu juga sakit dan jika anak masuk ke sekolah seolah-olah ibu yang bersekolah, dan jika seorang anak menjalani ujian maka seolah-olah ibu yang ujian, sehingga begitulah hingga selesai. Semua nya menjadi beban ibu sehingga ibu lebih didahulukan dalam hak mendapatkan perlakuan baik. Ibu memiliki tiga hak tiga kali lipat dibandingkan dengan ayah.

Dari aisyah radhiyallahu anha berkata : ada dua orang sahabat dari Rasulullah ﷺ yang berbakti kepada ibunya. Utsman bin affan dan haritsah bin nu’man, Ustman bin Affan berkata aku tidak bisa memandang ibuku semenjak masuk islam, sedangkan haritsah menyisir ibunya dan memberi makan dengan tangannya. Dan dia tidak pernah bertanya kepada ibunya tentang perkataan yang diperintahkan ibunya sampai dia bertanya kepada orang yang disekitar ibunya setelah ibunya keluar. Apa yang baru dikata kan ibunya.

Ibnu siri rahimahullah jika berkata kepada Ibunya orang tidak mengenal beliau karena mereka mengira beliau sakit karena beliau merendahkan suaranya dengan rendah sekali karena merendahkan diri dihadapan ibunya.

Ayah juga berhak mendapatkan perlakuan baik karena ia merupakan sebab keberadaan anak. Karena kecintaan nya dan kasih sayangnya dan pendidikan darinya, usaha dan nafkahnya. Dari Abdullah bin ‘amr radhiyallahu anhuma berkata Rasulullah ﷺ bersabda.
رِضَا اَللَّهِ فِي رِضَا اَلْوَالِدَيْنِ, وَسَخَطُ اَللَّهِ فِي سَخَطِ اَلْوَالِدَيْنِ
“Ridha Allah ada pada ridha kedua orang tua dan kemurkaan Allah ada pada kemurkaan kedua orang tua”

Rasulullah ﷺ bersabda :
الْوَالِدُ أَوْسَطُ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ فَإِنْ شِئْتَ فَأَضِعْ ذَلِكَ الْبَابَ أَوِ احْفَظْهُ.
Orang tua adalah pintu surga paling tengah. Kalian bisa sia-siakan pintu itu, atau kalian bisa menjaganya.

Orang yang berakal mengetahui apa yang hak orang yang baik dan berusaha membalasnya akan tetapi ketidaktahuan terhadap orang yang berjasa kepada nya termasuk didalam sifat yang buruk. Khususnya adalah jika pengingkaran terhadap hak digabungkan dengan cara membalaskan yang buruk. Itu menunjukkan kejelekan akhlaq dan akhir yang buruk.

Wahai hamba Allah…
Sesungguhnya kebaikan adalah dengan taat kepada Allah, kebaikan dan keberkahan bagi manusia, ia merupakan sebab bagi dikabulkan nya do’a, dan luasnya rezeki dan panjangnya umur. Rasulullah ﷺ bersabda :
مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِى رِزْقِهِ، وَيَنْسَأَ لَهُ فِى أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ.
“Barangsiapa yang suka diluaskan rizkinya dan dipanjangkan umurnya maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi”

Berbakti kepada orangtua termasuk ke dalam sifat orang yang baik. Dan memiliki keutamaan dan kesempurnaan. Orang yang berbakti maka ia akan dekat dengan Allah. Maka dekat dengan orangtua, dan dekat kepada manusia dan dekat dengan surga.

Dan orang yang berbakti kepada orang menyadari bahwa bagaimana pun ia berbakti ia tidak akan membalas jasa kedua orangtuanya.

Suatu hari, Ibnu Umar رضي الله عنه melihat seorang yg menggendong ibunya sambil thawaf mengelilingi Ka’bah (setelah dia selesai menyelesaikan thawafnya bersama ibu kandungnya yang ia gendong), orang tersebut lalu berkata kepada Ibnu Umar, “Wahai Ibnu Umar, menurut pendapatmu apakah aku sudah membalas kebaikan ibuku?” Ibnu Umar menjawab, “Belum, meskipun sekadar satu sentakan ibumu ketika melahirkanmu.

Hendaknya seorang muslim menjauhi dari sikap durhaka kepada orangtua. Rasulullah ﷺ bersabda :
ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ، ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ، ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ مَنْ أَدْرَكَ أَبَوَيْهِ عِنْدَ الكِبَرِ، أَحَدُ هُمَا أَوكِلَيْهِمَا، فَلَمْ يَدْخُلِ الْجَنَّةَ.
“Celaka, sekali lagi celaka, dan sekali lagi celaka orang yang mendapatkan kedua orang tuanya berusia lanjut, salah satunya atau keduanya, tetapi (dengan itu) dia tidak masuk syurga”

Durhaka kepada orangtua adalah sifat orang yang tercela. Bukti kehinaan, orang yang durhaka jauh dari Allah, jauh dari manusia dan jauh dari surga. Para ulama berkata setiap maksiat diakhir kan hukumnya dengan izin Allah hingga hari kiamat kecuali dosa durhaka kepada orangtua. Karena ia akan disegarakan didunia, dan apa yang engkau perbuat pasti akan dibalas. Bertaqwalah kepada Allah didalam berbakti kepada kedua orang tua kalian -wahai kaum muslimin- tunaikan lah hak-hak mereka, dan dahulukan keridhoan mereka diatas segalanya. Baik itu atas diri kalian, anak kalian dan istri kalian, niscaya kalian akan mendapatkan kemenangan dan kebahagiaan. Semoga Allah menjadikan kita semua diantara orang-orang yang berbakti kepada orangtua.
Allah Ta’ala firmankan,
۞ وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعْبُدُوْٓا اِلَّآ اِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسٰنًاۗ اِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ اَحَدُهُمَآ اَوْ كِلٰهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَآ اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًا – ٢٣
Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.
وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيٰنِيْ صَغِيْرًاۗ – ٢٤
Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, “Wahai Tuhanku! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.”

Khutbah kedua….

Allah telah memudahkan kita semua, bahwasanya siapa yang orangtua masih ada atau salah satunya, maka banyak hal yang bisa dilakukan untuk berbakti kepada mereka, seperti berdoa untuk mereka berdua, dan memohon ampunan untuk keduanya, dan melaksanakan janji mereka berdua, dan memuliakan sahabat² mereka berdua, dan menyambung silaturrahim mereka berdua, demikian juga kalau orangtua kita memiliki hutang seperti puasa dan haji maka anak hendaknya menggantikan nya untuk mereka, dan jika mereka belum melakukan ibadah haji dengan demikian tanggungan mereka dapat dibebaskan didepan Allah setelah mereka meninggal dan dapat ditambah tanpa mengurangi pahala.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here