Terjemah Khutbah Al-Haramain | Syaikh Dr. Suud Bin Ibrahim As-Syuraim – Ciri Hati yang Bersih

379

Khutbah pertama..

Wahai manusia sekalian…
Bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa dan berpegang teguh lah dengan tali agama Islam yang kuat dan tidak akan putus.dan ikutilah jama’ah kaum muslimin dan pemimpin mereka karena sesungguhnya tangan Allah bersama jama’ah.

Jauhilah oleh kalian perkara agama yang diada²kan karena setiap perkara agama yang diada²kan adalah sesat..

Wahai hamba Allah…
Sesungguhnya kehidupan itu berubah dan berputar,penuh suka dan duka, tawa dan tangis, keruh dan jernih. Ada saat nya bahagia dan ada saat sedih, dan sungguh banyak yang membuat jadi kacau dengan nya.jiwa seseorang dari segala sisi dikelilingi oleh badai goncangan kesusahan,ghundah gulana.dan semua ini adalah masalah bertumpuk ini menjadi masalah dan tidak adanya ketenangan jiwa sehingga rasa manis madu berubah menjadi pahit, dan rasa air segar merubah menjadi asin.

Wahai hamba Allah…
Sesuatu yang tidak diragukan bahwasanya anugrah yang paling besar dalam kehidupan kita adalah ketenangan jiwa.ketenangan jiwa, barangsiapa yang merasakan dalam hidupnya maka bagaikan ia telah mempunyai segalanya. Dan siapa yang kehilangan ketenangan jiwanya maka ia bagaikan tidak memiliki apa².

dan tidak juga dipahami ketenangan jiwa itu adalah meninggalkan segala aktivitas atau pekerjaan atau bersantai² dan bermalas²an.maka sekali² tidak lah demikian.karena kenyamanan hati itu adalah sepenuhnya dihasilkan karena kerja hati dan fisik, dan tidak mengherankan jika dikatakan bahwa pekerjaan merupakan kebutuhan didalam mendapatkan ketenangan jiwa.

Kaum muslimin sekalian…
Pikiran adalah sesuatu kondisi dan situasi dan dikatakan bahwasanya sifulan pikirannya tenang dan nyaman.maksudnya berlimpah dalam hidup dan ketenangan dalam hidup.jiwa dan pikirannya bahagia dan hal itu berkaitan dengan apa yang dimiliki nya.sementara ada yang pikirannya yang kacau.tujuan keinginan setiap orang yang berakal adalah ketenangan pikiran dan kejernihan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
اَلَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَصَدُّوْا عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ اَضَلَّ اَعْمَالَهُمْ ١

Orang-orang yang kufur dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah, Dia akan menggugurkan amal-amal mereka.

وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَاٰمَنُوْا بِمَا نُزِّلَ عَلٰى مُحَمَّدٍ وَّهُوَ الْحَقُّ مِنْ رَّبِّهِمْ ۚ كَفَّرَ عَنْهُمْ سَيِّاٰتِهِمْ وَاَصْلَحَ بَالَهُمْ ٢

Orang-orang yang beriman, beramal saleh, dan beriman pada apa yang diturunkan kepada (Nabi) Muhammad bahwa ia merupakan kebenaran dari Tuhan mereka, Allah menghapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan memperbaiki keadaannya.

Dan orang-orang yang memiliki wawasan dan bijaksana,semuanya menyadari bahwa ketenangan hati dan jiwa adalah tujuan semua orang.dan hal itu memerlukan ketenangan hati Yang tidak diliputi keghundahan dan kemurnian jiwa yang tidak dikotori oleh noda².

Dan mengambil penyebab yang menariknya dan memutuskan segala sebab yang menjauhkan nya.tekanan jiwa dan kekhawatiran dan pertentangan dan dominasi pemikiran yang negatif atas pikiran positif karena hal itu semua adalah faktor yang mempengaruhi ketenangan jiwa yang tidak semua yang menghalanginya. Dan semua itu bersumber dari hati.karena jika hati yang tenang dan nyaman maka ia akan mendatangkan ketenangan jiwa dan dengan nikmat kedamaian dan kenyamanan didalam dada.dan jika memusatkan perhatian pada pencemaran lingkungan adalah sesuatu keinginan yang diinginkan orang.maka tentunya melihat pencemaran hati juga seperti demikian ‚pertama untuk menjaga lingkungan dan menjaga jiwa.

Dimana ketenangan jiwa tidak akan dirasakan oleh orang yang mencari selain-Nya misalkan ingin mendapatkan pujian dari yang lainnya, merendahkan kedudukan orang lain dan untuk mengangkat kedudukannya.memadamkan cahaya orang lain. Dan untuk memancarkan cahaya nya.dan membungkam sekelilingnya agar hanya dia saja yang bisa berbicara.dan menginjak pundak orang lain untuk memetik buahnya. Ketenangan jiwa tidak akan didapatka oleh orang yang diri sendiri dan dengan orang lain.yang malah konflik dgn mereka ketenangan jiwa yang akan tidak dirasakan oleh orang yang tidak bersikap dengan apa adanya tanpa pembebanan dan berpura-pura.seorang muslim hendaknya introspeksi dirinya dan mempertimbangkan segala sesuatunya yang dapat membantunya.serta menjauhi apa yang dapat memberatkan jiwa dan badannya.

Tidak ada ketenangan jiwa bagi yang bersifat dengki, mengandu domba, dan hati yang penuh kebencian. Tapi,Allah Subhanahu wata’ala memberikan ketenangan jiwa bagi hati nya yang bersih.tauhkah engkau apa yang dimaksud dengan hati yang bersih!? Hati yang bertaqwa kepada Allah dan bersih hati dari sifat dengki dan hasad. Diriwayatkan hadist yang shohih dari nabi yang benar dan dibenarkan.

Ketenangan jiwa adalah anugrah yang besar dan nikmat yang Agung tidak semua orang mendapatkan nya.karena dia tidak dapat dihargai dengan uang, dan tidak akan hilang dengan kemiskinan.ia merupakan sifat jiwa dan hati.tidak dilarutkan oleh perhiasan dunia sebanyak apapun hartanya.dan setinggi mana apapun kedudukannya.dengan saat yang sama ia tidak terhalang oleh kemiskinan dan kemalaratan, dengan bagaimana pun kondisinya.ketenangan jiwa juga dirasakan oleh orang miskin. Yang mana mereka tidur dengan beralaskan tikar dan tidak dirasakan oleh orang kaya yang tidur diatas tempat tidur yang mewah.itulah perasaan jiwa -wahai hamba Allah-. Ia adalah ketenangan jiwa yang hanya dapat dicapai dengan membangun jembatan kokoh diatas perasaan egoisme dan kebencian dan kedengkian untuk menyebrangi nya dari alam dunia ke alam akhirat.

Dia adalah orang yang memiliki jiwa yang mulia dan hati yang bersih dan dada yang lapang.dimana kalian mendapatinya dengan bebaring diatas tempat tidurnya dimalam yang sepi lalu ia memejamkan matanya lalu tidur dengan lelap tanpa banyak pikiran dan kesemerawutan.dan salah satu cara yang termudah untuk membawa ketenangan pikiran dan ketenangan jiwa adalah dengan menyadari berapa lama pun hidup.karena hidup ini sungguh sangat singkat.dan diringkas dalam ayat yang pendek dari firman Allah subhanahu wa Ta’ala
Tentang manusia.
مِنْ نُّطْفَةٍۗ خَلَقَهٗ فَقَدَّرَهٗۗ ١٩

Dia menciptakannya dari setetes mani, lalu menentukan (takdir)-nya.
ثُمَّ السَّبِيْلَ يَسَّرَهٗۙ ٢٠

Kemudian, jalannya Dia mudahkan.746)

746) Maksudnya adalah memudahkan kelahirannya atau mempermudah baginya untuk menempuh jalan yang benar atau jalan yang sesat.

ثُمَّ اَمَاتَهٗ فَاَقْبَرَهٗۙ ٢١

Kemudian, Dia mematikannya lalu menguburkannya.

ثُمَّ اِذَا شَاۤءَ اَنْشَرَهٗۗ ٢٢

Kemudian, jika menghendaki, Dia membangkitkannya kembali.

Sungguh benar -wahai hamba Allah- hidup membutuhkan deskripsi lebih dari ini dan lebih singkat darinya.agar seseorang menyadari bahwa segala urusan berada ditangan Allah.apa yang dikehendaki Allah pasti akan terjadi dan apa yang tidak dikehendaki -Nya maka tidak akan terjadi dan apa saja yang ditentukan bagi nya maka akan datang kepada-Nya.meskipun semua manusia menolaknya.dan apa saja yang tidak ditakdir kan untuknya tidak akan dia mendapatinya walau ia memiliki simpanan harta yang banyak.dan apa yang telah berlalu tidak akan kembali kepada nya, dan masa depan yang tidak terlihat dan hanya Allah yang mengetahui nya. Dan sebab itu waktu yang ada padanya saat itu.oleh karenanya orang-orang yang pandai menyimpulkan bahwa ketenangan jiwa berkaitan dengan tiga hal, yaitu bertawakkal dengan sepenuhnya pada sesuatu yang belum dicapai, dan ridho dengan apa yang telah ditakdirkan dan bersabar dengan apa yang telah berlalu.

sesungguhnya seseorang dengan mengambil pemahaman seperti ini setiap saat.niscaya ia akan merasakan ketenangan jiwa dan ketentraman hati dan kebahagiaan hidup. agar seseorang dapat menjamin agar dirinya mendapatkan ketenangan jiwa dia harus menyakini empat hal berikut ini;
Yang pertama, seseorang tidak akan dapat lari dari kematian. Ia pasti akan berjumpa dengan nya mesti ia berusaha lari darinya. Karena kematian akan mengawasi nya dari arah depan nya dan bukan dari belakang nya.Allah subhanahu wa Ta’ala berfirman :
قُلْ إِنَّ ٱلْمَوْتَ ٱلَّذِى تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُۥ مُلَـٰقِيكُمْ ۖ ….
Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu,

Sejati nya seseorang mengingatkan nya dengan perkataan Ali bin thalib radhiyallahu anhu hari yang mana aku luput dari kematian yang tidak ditakdirkan dan hari yang mana aku tidak mewaspadai hari yang tidak ditakdirkan sementara kewaspadaan tidak selamat dari takdir.

Yang kedua, bahwasanya tidak ada istirahat yang abadi didunia ini dan hari-hari terus bergulir.jika ia menyenakan bagi jiwa yang tertawa maka ia akan menyakitkan jiwa yang menangis.

Yang ketiga, bahwa tidak ada kesempatan dan keselamatan orang-orang selamanya.meskipun orang-orang ada yang menjaganya. Dan tidak ada keselamatan manusia lebih sulit dari pada mendapatkan barang yang berharga atau permata yang berharga.dan pernah diungkapkan sebelumnya seandainya rumah dia berada didaerah yamamah sementara rumah ku ada dipuncak Hadramaut niscaya ia akan tetap mencari saya.ini adalah kesenangan yang jelas yang diberikan banyak orang.ketenangan jiwa itu hanya dapat dicapai dengan kesendirian tanpa bergaul.santai tanpa berkerja keras.diriwayatkan dari hadist hasan bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda orang mukmin yang bergaul dengan manusia dan bersabar dengan kejahatan mereka lebih baik dari pada orang mukmin yang tidak bergaul dengan manusia dan tidak sabar dengan kejahatan mereka.

Yang keempat, tidak ada ketenangan jiwa orang yang tidak ridho didalam dirinya. karena ridho kepada Allah ketentuannya dan takdirnya adalah pokok ketenangan jiwa. Abdullah mas’ud berkata bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda : sesungguhnya Allah dengan keadilanya menjadikan kegembiraan dan kebahagiaan pada keyakinan dan keridhoan. dan menjadikan kegelisahan dan kesedihan pada keraguan dan kemarahan. Maful meriwayatkan Ibnu Umar radhiyallahu anhu berkata sesungguhnya seseorang melakukan istikharah kepada Allah lalu Allah menentukan kondisinya lalu ia tidak ridho kepada Rabbnya dan tidak berapa lama ia melihat akibatnya maka pada saat itu telah dipilih baginya dimakbulkan istikharah nya.hasan al basri ditanya dimana munculnya sikap seperti ini, beliau menjawab karena rendahnha rasa ridho kepada Allah.lalu dikatakan kepada nya apa penyebab rendahnya rasa ridho kepada Allah, beliau menjawab karena kurangnya keyakinan kepada Allah semua itu dihimpunan oleh sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam yang diberikan jawamiul kalim beliau bersabda : barangsiapa yang ridho kepada Allah sebagai Rabbnya dan islam sebagai agamanya dan nabi Muhammad sebagai nabinya.

Khutbah kedua…

Wahai hamba Allah…
Bertaqwa lah kepada Allah subhanahu wa Ta’ala sebab ketenangan jiwa dihimpunan dalam empat hal yaitu tanpa membebani hidup dan badan dan banyak aktivitas dan bermalasan bagi mereka santai sedikit aktivitas sedikitnya dosa dalam diri dan mengurangi perhatian dan kekhawatiran masalah dunia dan menjaga lidah dari sesuatu yang akan mengotoriny dari ucapan kekejian yang keji

Bersungguh-sungguh lah mencari ketenangan jiwa dengan mentaati Allah subhanahu wa Ta’ala dan berdzikir kepada-Nya. Carilah ketenangan jiwa dari tempat yang sunyi, dan menahan diri dari orang lain dan tertimpa musibah dan mengusap kepala anak yatim.carilah ketenangan jiwa dalam kejujuran dan amanah dan rendah diri dan ridho.

Carilah ketenangan jiwa dari menjauhi orang yang bodoh, dan carilah ketenangan jiwa dalam sikap karena ia mengandung persepuluh dari ketenangan jiwa.jika ia tidak dianggap sebab ketenangan jiwa seluruh nya
Sebab tidak menjadikan ini sebagai ukuran dan acuan dari mencapai ketenangan jiwa maka ia semestinya tidak karena ia bagaikan orang yang mencari air segar dan mendapatkan air asin

أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا. وَلَئِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ، وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيْذَنَّهُ» رَوَاهُ البُخَارِيُّ.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘slaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman, ‘Barangsiapa yang menyakiti waliku, maka Aku mengumumkan perang kepadanya. Tidaklah hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang paling Aku cintai selain apa yang Aku wajibkan baginya. Hamba-Ku senantiasa mendekat diri kepada-Ku dengan amalan sunnah sehingga Aku mencintainya. Apabila aku telah mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika dia meminta kepadaku, pasti aku beri. Jika dia meminta perlindungan kepada-Ku pasti aku lindungi.’” (HR. Bukhari) [HR. Bukhari, no. 6502]

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here