Terjemah Khutbah Al-Haramain | Syaikh Dr. Abdullah Al-Juhany – Hubungan Takwa dengan Ketaatan Terhadap Pemimpin

92

Khutbah pertama…

Aku berwasiat untuk diri sendiri dan untuk kalian semuanya agar selalu bertaqwa kepada Allah. Dan mengesankan-Nya didalam ibadah tanpa ada Sekutu bagi-Nya sesuatu apapun. Dan berpegang teguh dengan agama, sungguh Allah telah menjanjikan barangsiapa yang bertawakkal kepadanya dengan kemulian dan kejayaan. Sebaliknya kehinaan dan kesengsaraan bagi pelaku maksiat dan orang-orang zhalim.

Wahai hamba Allah…
Bagi yang mencari Allah dan bagi yang mencari kehidupan akhirat, tidak lah mantap kondisi langkah nya. kecuali kedua belenggu, membelenggu hati pada apa yang menjadi tujuan nya dan membelenggu nya agar tidak melihat kepada selain tujuannya tersebut. Menahan lisan dari mengatakan sesuatu yang tidak bermanfaat. Dan menahannya agar selalu berdzikir. Dan mengatakan sesuatu yang menambah keimanan dan pengetahuan nya. Dan juga menahan seluruh anggota tubuhnya dari maksiat dan menahannya agar bisa menjalankan kewajiban dan hal lainnya.

Dan hendaknya dia tidak melepaskan diri belenggu ini sampai ia berjumpa dengan Rabb-Nya. Agar ia membebaskan dirinya dari tahanan penjara kepada Alam bebas yang paling luas nantinya. Akan tetapi, ketika ia tidak bersabar dari belenggu ini dan berusaha melarikan diri kepada syahwat maka ia akan menanggung beratnya belenggu saat dia keluar dari dunia yang sementara ini.Setiap orang yang keluar dari dunia ini hakikat ini dan terbebas dari belenggu atau pergi menuju belenggu.

Wahai kaum muslimin…
Dan diantara bentuk kasih sayang Allah kepada Hamba-Nya adalah bahwasannya Ia tidak akan membiarkan hidup begitu saja, akan tetapi Allah menjadikan cahaya yang dengannya hamba tersebut mendapat petunjuk. Tegar diatas jalannya, dan menjadikan senjata dengan nya ia melindungi diri. Allah juga mengutus para nabi dan Rasul-Nya sebagai pemberi kabar gembira dan peringatan. Dan memerintah hambanya untuk berpegang teguh dengan-Nya dan meminta pertolongan kepada-Nya. Dan memerintah kan tuk selalu bertaqwa kepada Allah. Karena ketaqwaan membentengi diri dari perkara² yang buruk.

Sesungguhnya ketaqwaan -wahai hamba – hamba Allah- adalah perasaan yang hadir dalam hati seorang yang beriman. Yang pengaruhnya telah tampak pada anggota tubuh dan membuatnya tergerak untuk mendapatkan apa yang ada disisi Allah dan berupaya meraihnya dan ia juga mewariskan rasa takut kepada Allah. Dan kepada murkanya sehingga menjadikan nya menjauhi maksiat pada-Nya.

Ketaqwaan adalah keimanan yang kokoh kekuatan jiwa yang tidak rela jatuh didalam maksiat kepada Allah. Bermalas-malasan didalam menunaikan kewajiban. Serta menuntun seseorang orang yang beriman diatas jalan yang lurus dan manhaj yang selamat hingga sampai ke negri akhirat dan penuh kenikmatan. Sesungguhnya Allah azza wajalla telah memberikan wasiat nya kepada yang terdahulu dan kepada yang kemudian agar senantiasa bertaqwa. Dan Allah mengkhususkan orang yang beriman dengan taqwa itu. Allah tabaroka wa ta’ala berfirman :

وَلَقَدْ وَصَّيْنَا ٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْكِتَـٰبَ مِن قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ وَإِن تَكْفُرُوا۟ فَإِنَّ لِلَّهِ مَا فِى ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ ۚ وَكَانَ ٱللَّهُ غَنِيًّا حَمِيدًۭا

dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu; bertakwalah kepada Allah.

Para ulama berkata ayat ini merupakan inti dari ayat alquran. Karena semuanya berbutar disekeliling nya dan tidak ada satu kebaikan pun yang cepat atau yang lambat, yang nampak dan yang tersembunyi. Melainkan taqwa kepada Allah adalah jalan sampai kepada-Nya. Dan sarana untuk menggapainya. Tidak ada satu keburukan pun cepat atau lambat, tampak atau tersembunyi. Melainkan taqwa kepada Allah adalah perisai yang kuat dan benteng yang kokoh untuk selamat darinya dan terbebas darinya bahayanya.

Sesungguhnya ketaqwaan -wahai hamba- hamba Allah- adalah ibadah kepada Allah dengan mengerjakan semua perintah dan meninggalkan semua larangnya karena rasa takut kepada Allah dan mengharapkan pahala dari-Nya. Dan juga dikarenakan rasa takut kepada-Nya dan rasa mengagungkan-Nya. Serta rasa cinta sejati kepada-Nya dan kepada Rasul-Nya ﷺ.

Dan Telah disebutkan kalimat Taqwa didalam Alquran sebanyak 250 tempat. Dan bahkan ia telah diulang² didalam satu ayat sekali atau dua kali atau tiga kali. Allah ta’ala berfirman :

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌۭ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۢ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.(Surat Al-Hasyr (59) Ayat 18)

Dan Allah Ta’ala berfirman:

لَيْسَ عَلَى ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ جُنَاحٌۭ فِيمَا طَعِمُوٓا۟ إِذَا مَا ٱتَّقَوا۟ وَّءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ ثُمَّ ٱتَّقَوا۟ وَّءَامَنُوا۟ ثُمَّ ٱتَّقَوا۟ وَّأَحْسَنُوا۟ ۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ

Tidak ada dosa bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan yang saleh karena memakan makanan yang telah mereka makan dahulu, apabila mereka bertakwa serta beriman, dan mengerjakan amalan-amalan yang saleh, kemudian mereka tetap bertakwa dan beriman, kemudian mereka (tetap juga) bertakwa dan berbuat kebajikan. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.(Surat Al-Ma’idah (5) Ayat 93)

Dan sesungguhnya ini merupakan dakwahnya para Nabi dan Rasul ‘alaihi sholatu wassalam kepada umatnya untuk mewasiatkan taqwa kepada Allah azza wa jalla. Seperti Nabi Nuh Alaihi salam yang pertama. Allah ta’ala berfirman :
كَذَّبَتْ قَوْمُ نُوْحِ ِۨالْمُرْسَلِيْنَ ۚ – ١٠٥
Kaum Nuh telah mendustakan para rasul.
اِذْ قَالَ لَهُمْ اَخُوْهُمْ نُوْحٌ اَلَا تَتَّقُوْنَ ۚ – ١٠٦
Ketika saudara mereka (Nuh) berkata kepada mereka, “Mengapa kamu tidak bertakwa?

Dan setelahnya kaum ‘aad Alaihi salam Allah ta’ala berfirman :
كَذَّبَتْ عَادُ ِۨالْمُرْسَلِيْنَ ۖ – ١٢٣
(Kaum) ‘Ad telah mendustakan para rasul.
اِذْ قَالَ لَهُمْ اَخُوْهُمْ هُوْدٌ اَلَا تَتَّقُوْنَ ۚ – ١٢٤
Ketika saudara mereka Hud berkata kepada mereka, “Mengapa kamu tidak bertakwa?

Dan Nabi Sholeh Alaihi salam kepada kaumnya. Allah ta’ala berfirman:
كَذَّبَتْ ثَمُوْدُ الْمُرْسَلِيْنَ ۖ – ١٤١
Kaum Samud telah mendustakan para rasul.
اِذْ قَالَ لَهُمْ اَخُوْهُمْ صٰلِحٌ اَلَا تَتَّقُوْنَ ۚ – ١٤٢
Ketika saudara mereka Saleh berkata kepada mereka, “Mengapa kamu tidak bertakwa?

Dan Nabi Luth Alaihi salam kepada Kaumnya. Allah ta’ala berfirman :
كَذَّبَتْ قَوْمُ لُوْطِ ِۨالْمُرْسَلِيْنَ ۖ – ١٦٠
Kaum Lut telah mendustakan para rasul,
اِذْ قَالَ لَهُمْ اَخُوْهُمْ لُوْطٌ اَلَا تَتَّقُوْنَ ۚ – ١٦١
ketika saudara mereka Luth berkata kepada mereka, “Mengapa kamu tidak bertakwa?”

Dan Nabi syu’aib Alaihi salam kepada Penduduk Allah, Allah ta’ala berfirman :
كَذَّبَ اَصْحٰبُ لْـَٔيْكَةِ الْمُرْسَلِيْنَ ۖ – ١٧٦
Penduduk Aikah telah mendustakan para rasul;
اِذْ قَالَ لَهُمْ شُعَيْبٌ اَلَا تَتَّقُوْنَ ۚ – ١٧٧
ketika Syuaib berkata kepada mereka, “Mengapa kamu tidak bertakwa?

Demikianlah Kalau kita melihat secara mendalam, kita akan dapatkan didalam syari’at banyak kalimat taqwa disebutkan. Baik sebelum dan sesudahnya, atau sebagai hasil syariat tsb. Sebagai contoh adalah perkara riba. Allah ta’ala berfirman:

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَذَرُوا۟ مَا بَقِىَ مِنَ ٱلرِّبَوٰٓا۟ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman.(Surat Al-Baqarah (2) Ayat 278)

Dan bertaqwa kepada Allah sejati nya merupakan tali kekang, agar tetap berada diatas jalan yang benar. Dari segala kehinaan dan dari godaan syetan. Allah ta’ala berfirman:

إِنَّ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَوْا۟ إِذَا مَسَّهُمْ طَـٰٓئِفٌۭ مِّنَ ٱلشَّيْطَـٰنِ تَذَكَّرُوا۟ فَإِذَا هُم مُّبْصِرُونَ.

Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.(Surat Al-A’raf (7) Ayat 201)

Dan taqwa itu didunia menjadu daya tarik keberkahan dari langit dan bumi. Allah berfirman :

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ ٱلْقُرَىٰٓ ءَامَنُوا۟ وَٱتَّقَوْا۟ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَـٰتٍۢ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلْأَرْضِ وَلَـٰكِن كَذَّبُوا۟ فَأَخَذْنَـٰهُم بِمَا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.(Surat Al-A’raf (7) Ayat 96)

Dan begitu juga ketika didalam kondisi genting dan mencekam pada akhirat kelak yang manusia dikumpulkan. dan semua makhluk semuanya tidak ada lagi pilihan kecuali dimasukkan kedalam surga atau dimasukkan kedalam neraka.dihari dimana anak² berubah menjadi beruban, dan orang-orang melarikan diri dari saudaranya, dan ibu dan bapaknya. Kita mendapati orang-orang yang bertaqwa dibawa. Allah ta’ala berfirman:

وَسِيقَ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَوْا۟ رَبَّهُمْ إِلَى ٱلْجَنَّةِ زُمَرًا ۖ حَتَّىٰٓ إِذَا جَآءُوهَا وَفُتِحَتْ أَبْوَٰبُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا سَلَـٰمٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَٱدْخُلُوهَا خَـٰلِدِينَ

Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhan dibawa ke dalam surga berombong-rombongan (pula). Sehingga apabila mereka sampai ke surga itu sedang pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: “Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu. Berbahagialah kamu! maka masukilah surga ini, sedang kamu kekal di dalamnya”.(Surat Az-Zumar (39) Ayat 73)

Dan betapa besar taqwa, sebagaimana Rasulullah ﷺ mewasiatkan diakhir hayat beliau. Adalah agar bertaqwa kepada Allah dan tunduk dan patuh kepada pemimipin, sebagaimana dari hadist irbath bin sariyah radhiallahu anhu.

عَنْ أَبِي نَجِيْحٍ العِرْبَاضِ بْنِ سَارِيَةَ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ قاَلَ : ………..قَالَ ﷺ أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَ جَلَّ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَي اخْتِلاَفًا كَثِيْرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ المَهْدِيِّيْنَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ رَوَاهُ أَبُوْ دَاوُدَ وَالتِّرْمِذِيُّ وَقَالَ : حَدِيْثٌ حَسَنٌ صَحِيْحٌ

Hadits Kedua Puluh Delapan
Dari Abu Najih Al-‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, ………..Nabi ﷺ bersabda, ‘Aku berwasiat kepada kalian agar bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat meskipun kalian dipimpin seorang budak. Sungguh, orang yang hidup di antara kalian sepeninggalku, ia akan melihat perselisihan yang banyak. Oleh karena itu, wajib atas kalian berpegang teguh pada sunnahku dan Sunnah khulafaur rosyidin al-mahdiyyin (yang mendapatkan petunjuk dalam ilmu dan amal). Gigitlah sunnah tersebut dengan gigi geraham kalian, serta jauhilah setiap perkara yang diada-adakan, karena setiap bidah adalah sesat.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, ia berkata bahwa hadits ini hasan sahih). [HR. Abu Daud, no. 4607 dan Tirmidzi, no. 2676. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini sahih].

Ibnu Rajab al hambali Rahimahullah berkata : dua kalimat ini mendatangkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Sedang kan taqwa membawa kebahagiaan didunia, dan di akhirat yaitu barangsiapa yang memegang teguh dengannya. Sedangkan tunduk dan patuh kepada para pemimpin kaum muslimin, didalam nya terdapat kebahagiaan didunia, dan dengan nya teratur kemaslahatan bagi semua orang baik dalam kehidupan mereka. Dan dengan nya pula mereka mampu menjunjung tinggi agama dan taat kepada Rabb mereka.

Bertaqwalah kepada Allah wahai kaum muslimin…
Ketahuilah bahwa ketaqwaan adalah sebaik-baik pakaian yang dengan nya seorang hamba berhias diri. Sesungguhnya Sebaik-baik bekal dengannya seorang hamba. Allah ta’ala berfirman :
وَلِبَاسُ ٱلتَّقْوَىٰ ذَٰلِكَ خَيْرٌۭ ۚ
pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik.

Allah ta’ala berfirman :
وَتَزَوَّدُوا۟ فَإِنَّ خَيْرَ ٱلزَّادِ ٱلتَّقْوَىٰ ۚ
dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.

Jika seseorang tidak mengenakan pakaian ketaqwaan maka ia tampak telanjang sekalipun ia berpakaian. Dan Sebaik-baik pakaian hamba adalah ketaatan kepada Rabb-Nya. Dan tiada kebaikan bagi siapa yang bermaksiat kepada-Nya.

Bakr almuzani rahimahullah berkata ketika terjadi peristiwa fitnah. Thalq Bin Habib Al-’Anazi berkata:
العَمَلُ بِطَاعَةِ اللهِ، عَلَى نُوْرٍ مِنَ اللهِ، رَجَاءَ ثَوَابِ اللهِ، وَتَرْكِ مَعَاصِي اللهِ، عَلَى نُوْرٍ مِنَ اللهِ، مَخَافَةَ عَذَابِ اللهِ.
“Taqwa adalah mengamalkan ketaatan kepada Allah dengan cahaya Allah (dalil), mengharap ampunan Allah, meninggalkan maksiat dengan cahaya Allah (dalil), dan takut terhadap adzab Allah”

Imam adz dzahabi rahimahullah berkata beramalah dan beringkaslah dikarenakan tidak ada ketaqwaan tanpa amalan. Dan tidak ada amalan tanpa ilmu dan tutunan nabi ﷺ. Dan itu tidak ada manfaatnya kecuali disertai ikhlas kepada Allah dan bukan dikatakan meninggalkan maksiat karena cahaya pemahamannya meskipun memang maksiat membutuhkan pengetahuan tentangnya. Dan meninggalkan maksiat itu karena takut kepada Allah. Bukan agar disanjung karena meninggalkannya. Dan Barang siapa yang senantiasa mengamalkan anjuran ini maka ia akan meraih keberhasilan.

Seorang berkata kepada maimun bin mihran rahimahullah, wahai abu Ayyub didalam masalah tetap didalam kebaikan. Dan selagi engkau tetap ditengah² mereka. Kembalilah keadaanmu, sungguh manusia masih tetap didalam selama mereka bertaqwa kepada Rabb-Nya.

Wahai hamba Allah…
Hadirkan ketaqwaan didalam diri kalian2x.., kepada keluarga kalian dalam urusan kalian, dan dalam urusan anak² kalian. Didalam Muamalah kalian dengan siapapun kepada dibawah naungan kalian dalam tugas yang kalian pikul. Dan kemaslahatan kaum muslimin dan juga didalam setiap aspek kehidupan kalian. Baik yang bersifat umum ataupun bersifat individu. Dengan begitu kalian akan beruntung dan akan mendapatkan keberuntungan. Allah ta’ala berfirman ;
اَلَآ اِنَّ اَوْلِيَاۤءَ اللّٰهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَۚ – ٦٢
Ingatlah wali-wali Allah itu, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.
اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَكَانُوْا يَتَّقُوْنَۗ – ٦٣
(Yaitu) orang-orang yang beriman dan senantiasa bertakwa.
لَهُمُ الْبُشْرٰى فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَفِى الْاٰخِرَةِۗ لَا تَبْدِيْلَ لِكَلِمٰتِ اللّٰهِ ۗذٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُۗ – ٦٤
Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan di akhirat. Tidak ada perubahan bagi janji-janji Allah. Demikian itulah kemenangan yang agung.

Khutbah Kedua….

Aku wasiatkan untuk diri sendiri dan untuk kalian semua agar selalu bertaqwa. Bertaqwa lah kepada Allah…
Dan beramalah dengan perintah-Nya. Dan mengambil petunjuk dari tuntunan nya ﷺ dan mengambil kemulian akhlaq nya dan berdiri diatas batasan² nya dan tidak ada keberuntungan bagi umat ini dan tidak ada kemulian dan keagungan umat ini dan kemenangan dan pertolongan baginya kecuali dengan agama dan islam nya. Dan tidak ada keselamatan bagi dihari kiamat dan tidak ada kesuksesan untuk meraih surga kecuali dengan bertaqwa kepada Allah.

Ia adalah senjata bagi orang-orang yang beriman didunia ini. Dan dia adalah sebaik-baik bekal baginya ketika menghadap kepada Rabb-Nya. Ia adalah keselamatan dari berbagai malapetaka didunia dan diakhirat. BarangSiapa yang bertaqwa kepada Allah, maka Allah akan menjaganya. Dan siapa yang melakukan ketaatan kepada-Nya maka dia meridhoi nya. Dan membuat dirinya diridhoi oleh oranglain.

Wahai hamba Allah…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here